Monday, April 6, 2015

Matilda dengan IBD


Matilda dengan IBD

Nama  : Adam Al Muthahhir
Kelas   : 1TA02
NPM    : 10314155


IBD yang Dihubungkan dengan Prosa

       Saya tidak sering membaca novel tapi pernah membaca beberapa novel, saya pernah membaca novel karangan Roald Dahl yang berjudul Matilda, Charlie and The Chocolate Factory, dan Charlie and The Great Glass Elevator, dan novel novel karangan John Green yang berjudul The Fault in Our Stars, Looking for Alaska, Paper Towns, dan Let It Snow (buku karangan Maureen Johnson, John Green, dan Lauren Myracle). Untuk tugas “IBD yang dihubungkan dengan prosa” ini saya akan mengangkat kisah dalam novel Roald Dahl yang berjudul Matilda.

       Novel karangan Roald Dahl berjudul Matilda ini bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Matilda, anak dari Mr. dan Mrs. Wormwood. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Michael. Masa kecil seorang anak biasanya masih bergelimang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun tidak begitu halnya dengan Matilda. Kedua orang tuanya sibuk dengan kesibukan masing-masing. Ayahnya seorang penjual mobil bekas yang demi meraup keuntungan besar selalu menipu konsumennya. Beberapa trik jahat dilakukannya untuk menyulap mobil yang rusak menjadi pantas untuk dijual. Ayahnya sangat tidak suka dengan Matilda. Ia hampir  menganggap Matilda itu tidak ada. Matilda baginya hanya seorang anak perempuan yang bodoh dan tidak berguna. Seorang anak perempuan tidak sepatutnya pintar itu menurutnya. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang tiap hari kerjanya pergi main Bingo. Setiap hari ia hanya menyiapkan makanan siap saji yang hanya perlu dipanaskan untuk keluarganya. Ia hanya memperhatikan penampilan dan kesenangannya sendiri. Kakaknya Michael yang tidak begitu jelas kegiatan seharinya-harinya selain sekolah dan menonton TV. Namun ia masih cukup diperhatikan oleh ayah dan ibunya karena dia seorang anak laki-laki.

Setiap orangtuanya sudah pulang ke rumah, maka kegiatan di rumah itu hanyalah menonton TV. Makan pun harus di depan TV. Ibu dan ayahnya tidak mau melewatkan sedikitpun acara favoritnya di TV. Anehnya pasangan itu sangat cocok satu sama lain. Mereka menganggap Matilda seperti bisul yang mengganggu. Sungguh orang tua yang buruk bagi anak semanis Matilda.

Umur tiga tahun Matilda sudah bisa membaca. Ia belajar sendiri mengenal huruf-huruf dengan otaknya yang jenius. Setelah bisa membaca ia mempunyai kebutuhan untuk membaca buku-buku. Hal itu bisa dipenuhinya di perpustakaan yang agak jauh dari rumahnya. Tiap kali ibunya pergi untuk bermain Bingo, ia pergi ke perpustakaan untuk membaca. Lalu ia akan pulang sebelum ibunya pulang ke rumah. Ibu penjaga perpustakaan itu mulanya mengira Matilda hanya melihat gambar-gambarnya saja, namun ternyata Matilda bisa menceritakan isi dari setiap buku yang dibacanya. Setelah habis semua buku anak-anak dibacanya, ia pun mulai membaca buku-buku berkualitas untuk  orang dewasa seperti Ernest Hemingway, Charles Dickens dan lain-lain. Sayangnya penjaga perpustakaan itu bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, sehingga kejeniusan Matilda tidak pernah ia beritahukan ke orang lain. Setelah beberapa waktu Matilda baru tahu bahwa buku-buku perpustakaan bisa ia pinjam ke rumah. Sejak itu kegiatannya adalah  membaca di kamarnya.

Ayahnya sangat jengkel ketika tahu bahwa Matilda sangat menikmati kegiatannya membaca buku. Ia bahkan tidak peduli dengan kenyataan bahwa anak sekecil itu sudah bisa membaca. Ia terus beranggapan bahwa Matilda bodoh dan tidak berguna. Ia tidak bisa menerima bahwa orang lain bisa sangat menikmati kegiatan yang dilakukan seperti membaca. Ia menyuruh Matilda untuk menonton TV dan merobek-robek buku perpustakaan Matilda. Namun Matilda yang mempunyai cakrawala pengetahuan sangat luas melalui buku-buku yang sudah dibacanya, sekarang memiliki keinginan untuk membalas setiap kali ayahnya menyakiti perasaannya. Ia beranggapan ayahnya harus dihukum atas kesalahan yang dilakukannya. Sungguh dengan otaknya yang pintar ia berhasil membalas ayahnya dengan rencana-rencana konyol yang brilian.

       Setelah akhirnya Matilda dimasukkan juga oleh kedua orangtuanya ke sekolah, guru kelasnya Jennifer Honey, pada hari pertama sekolah menemukan bahwa anak ini pandai luar biasa. Ia tampak seperti anak kebanyakan, itu bila kita tidak mulai menanyainya tentang buku-buku dan matematika. Matilda juga mempunyai kemampuan berhitung yang luar biasa. Miss Honey ingin memindahkan Matilda ke kelas tertinggi sesuai dengan kecerdasannya tersebut, namun terhalang oleh sang kepala sekolah yang mengerikan, Miss Truchbull. Ia sangat membenci anak-anak kecil. Ia bahkan mempunyai ruang penyiksaan untuk menghukum anak-anak yang dianggapnya bersalah.

Ia benci melihat rambut Amanda Thripp yang dikepang manis oleh ibunya, sehingga ia menjadikan Amanda seperti martil yang dilemparkannya ke lapangan rumput.  Ia bahkan memerintahkan Bruce Bogtrotter untuk menghabiskan kue yang sangat besar karena kedapatan memakan biskuit dari tukang masak yang khusus dibuat untuk kepala sekolah tersebut. Seperti kata Matilda kekuatan Miss Trunchbull adalah pada perbuatannya yang tidak mungkin bisa dipercayai orang lain sehingga ketika kita mengungkapkannya pada orang lain, tidak ada satupun orang yang akan percaya. Kejahatan yang sempurna. Miss Honey pun berusaha memberitahukan kepada orang tua Matilda tentang kejeniusan anaknya. Ternyata ia sangat terkejut dan kecewa dengan apa yang ditemuinya. Kasihan sekali Matilda mempunyai orang tua seperti Mr. dan Mrs. Wormwood.

       Pada suatu ketika, Lavender-teman Matilda memasukan kadal air ke dalam tempat air Miss. Trunchbull, namun yang dituduh adalah Matilda. Rasa bencinya kepada orang yang telah menuduhnya tanpa alasan membuat Matilda tiba-tiba merasakan kekuatan yang luar biasa untuk bisa menggerakkan benda melalui matanya. Ia hanya memikirkannya dengan sangat maka seperti ada tangan-tangan dari matanya yang akan membantunya mewujudkan keinginannya.

Ia memutuskan untuk memberitahu Miss Honey yang menganjurkannya untuk melatih kekuatannya itu.  Itulah saat pertama Matilda akhirnya berkunjung ke rumah Miss Honey. Gubuk yang tidak pantas di sebut rumah. Matilda tidak pernah membayangkan bahwa gurunya yang baik itu tinggal di tempat seperti itu. Ternyata bibinya Miss Honey telah merebut harta warisan dari kedua orangtuanya yang telah meninggal, dan ia tidak dapat merebutnya kembali karena surat warisannya tidak pernah ditemukan. Bibi Miss Honey yaitu Miss Truchbull. Matilda memutuskan untuk membantu Miss Honey merebut warisannya kembali. Matilda akhirnya tinggal dengan Miss Honey karena orangtuanya dan saudaranya pindah ke Spanyol. Orangtuanya pindah ke Spanyol karena perkiraannya Miss Honey itu, ayah Matilda adalah pencuri mobil. Lalu agar tidak ditangkap oleh polisi, ayah Matilda pindah ke Spanyol.

       Dari segi IBD novel tersebut dapat dilihat dari pesan moral yang terkandung di dalam cerita tersebut bahwa para orang tua seharusnya sudah mengamati bakat anak sejak dini dan tidak seharusnya orang tua mengurangi perhatian terhadap anak karena anak pada usia dini sangat membutuhkan semangat dan perhatian dari orang tua agar anak dapat mengembangkan bakatnya, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada seseorang seperti kalimat dari teman Alan Turing yang berkata “kadang sesuatu yang tidak diduga datang dari orang yang tidak terduga”. Dan bagi anak anak ataupun remaja nilai yang bisa diambil adalah walau pun kita berada dalam keadaan sulit atau tidak menguntungkan kita harus tetap bersemangat dalam mengembangkan diri dan belajar.

       Dari segi kesenangan kita marasa terhibur dengan cerita dari novel ini dimana Matilda yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak enak tapi dapat membalas orang orang tersebut dengan seru tetapi tidak menyakiti orang lain. Dari segi keseimbangan wawasan dari membaca novel tersebut kita bisa tahu bahwa masih ada juga orang tua yang sebenarnya belum siap dalam mangasuh anak dan memberinya pendidikan yang benar. 

No comments:

Post a Comment