Matilda dengan IBD
Nama : Adam Al Muthahhir
Kelas : 1TA02
NPM : 10314155
IBD
yang Dihubungkan dengan Prosa
Saya tidak sering membaca novel tapi pernah
membaca beberapa novel, saya pernah membaca novel karangan Roald Dahl yang
berjudul Matilda, Charlie and The Chocolate Factory, dan Charlie and The Great
Glass Elevator, dan novel novel karangan John Green yang berjudul The Fault in
Our Stars, Looking for Alaska, Paper Towns, dan Let It Snow (buku karangan Maureen Johnson, John Green, dan Lauren Myracle).
Untuk tugas “IBD yang dihubungkan dengan prosa” ini saya akan mengangkat kisah
dalam novel Roald Dahl yang berjudul Matilda.
Novel karangan Roald Dahl berjudul Matilda ini
bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Matilda, anak dari Mr. dan Mrs.
Wormwood. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Michael. Masa kecil
seorang anak biasanya masih bergelimang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Namun tidak begitu halnya dengan Matilda. Kedua orang tuanya sibuk dengan
kesibukan masing-masing. Ayahnya seorang penjual mobil bekas yang demi meraup
keuntungan besar selalu menipu konsumennya. Beberapa trik jahat dilakukannya
untuk menyulap mobil yang rusak menjadi pantas untuk dijual. Ayahnya sangat
tidak suka dengan Matilda. Ia hampir
menganggap Matilda itu tidak ada. Matilda baginya hanya seorang anak
perempuan yang bodoh dan tidak berguna. Seorang anak perempuan tidak sepatutnya
pintar itu menurutnya. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang tiap hari kerjanya
pergi main Bingo. Setiap hari ia hanya menyiapkan makanan siap saji yang hanya
perlu dipanaskan untuk keluarganya. Ia hanya memperhatikan penampilan dan
kesenangannya sendiri. Kakaknya Michael yang tidak begitu jelas kegiatan
seharinya-harinya selain sekolah dan menonton TV. Namun ia masih cukup
diperhatikan oleh ayah dan ibunya karena dia seorang anak laki-laki.
Setiap
orangtuanya sudah pulang ke rumah, maka kegiatan di rumah itu hanyalah menonton
TV. Makan pun harus di depan TV. Ibu dan ayahnya tidak mau melewatkan
sedikitpun acara favoritnya di TV. Anehnya pasangan itu sangat cocok satu sama
lain. Mereka menganggap Matilda seperti bisul yang mengganggu. Sungguh orang
tua yang buruk bagi anak semanis Matilda.
Umur tiga tahun Matilda sudah bisa membaca. Ia
belajar sendiri mengenal huruf-huruf dengan otaknya yang jenius. Setelah bisa
membaca ia mempunyai kebutuhan untuk membaca buku-buku. Hal itu bisa
dipenuhinya di perpustakaan yang agak jauh dari rumahnya. Tiap kali ibunya
pergi untuk bermain Bingo, ia pergi ke perpustakaan untuk membaca. Lalu ia akan
pulang sebelum ibunya pulang ke rumah. Ibu penjaga perpustakaan itu mulanya
mengira Matilda hanya melihat gambar-gambarnya saja, namun ternyata Matilda
bisa menceritakan isi dari setiap buku yang dibacanya. Setelah habis semua buku
anak-anak dibacanya, ia pun mulai membaca buku-buku berkualitas untuk orang dewasa seperti Ernest Hemingway,
Charles Dickens dan lain-lain. Sayangnya penjaga perpustakaan itu bukan orang
yang suka mencampuri urusan orang lain, sehingga kejeniusan Matilda tidak pernah
ia beritahukan ke orang lain. Setelah beberapa waktu Matilda baru tahu bahwa
buku-buku perpustakaan bisa ia pinjam ke rumah. Sejak itu kegiatannya
adalah membaca di kamarnya.
Ayahnya sangat jengkel ketika tahu bahwa
Matilda sangat menikmati kegiatannya membaca buku. Ia bahkan tidak peduli
dengan kenyataan bahwa anak sekecil itu sudah bisa membaca. Ia terus
beranggapan bahwa Matilda bodoh dan tidak berguna. Ia tidak bisa menerima bahwa
orang lain bisa sangat menikmati kegiatan yang dilakukan seperti membaca. Ia menyuruh
Matilda untuk menonton TV dan merobek-robek buku perpustakaan Matilda. Namun
Matilda yang mempunyai cakrawala pengetahuan sangat luas melalui buku-buku yang
sudah dibacanya, sekarang memiliki keinginan untuk membalas setiap kali ayahnya
menyakiti perasaannya. Ia beranggapan ayahnya harus dihukum atas kesalahan yang
dilakukannya. Sungguh dengan otaknya yang pintar ia berhasil membalas ayahnya
dengan rencana-rencana konyol yang brilian.
Setelah akhirnya Matilda dimasukkan juga oleh
kedua orangtuanya ke sekolah, guru kelasnya Jennifer Honey, pada hari pertama
sekolah menemukan bahwa anak ini pandai luar biasa. Ia tampak seperti anak
kebanyakan, itu bila kita tidak mulai menanyainya tentang buku-buku dan
matematika. Matilda juga mempunyai kemampuan berhitung yang luar biasa. Miss
Honey ingin memindahkan Matilda ke kelas tertinggi sesuai dengan kecerdasannya
tersebut, namun terhalang oleh sang kepala sekolah yang mengerikan, Miss
Truchbull. Ia sangat membenci anak-anak kecil. Ia bahkan mempunyai ruang
penyiksaan untuk menghukum anak-anak yang dianggapnya bersalah.
Ia
benci melihat rambut Amanda Thripp yang dikepang manis oleh ibunya, sehingga ia
menjadikan Amanda seperti martil yang dilemparkannya ke lapangan rumput. Ia bahkan memerintahkan Bruce Bogtrotter
untuk menghabiskan kue yang sangat besar karena kedapatan memakan biskuit dari
tukang masak yang khusus dibuat untuk kepala sekolah tersebut. Seperti kata
Matilda kekuatan Miss Trunchbull adalah pada perbuatannya yang tidak mungkin
bisa dipercayai orang lain sehingga ketika kita mengungkapkannya pada orang
lain, tidak ada satupun orang yang akan percaya. Kejahatan yang sempurna. Miss
Honey pun berusaha memberitahukan kepada orang tua Matilda tentang kejeniusan
anaknya. Ternyata ia sangat terkejut dan kecewa dengan apa yang ditemuinya.
Kasihan sekali Matilda mempunyai orang tua seperti Mr. dan Mrs. Wormwood.
Pada suatu ketika, Lavender-teman Matilda
memasukan kadal air ke dalam tempat air Miss. Trunchbull, namun yang dituduh
adalah Matilda. Rasa bencinya kepada orang yang telah menuduhnya tanpa alasan
membuat Matilda tiba-tiba merasakan kekuatan yang luar biasa untuk bisa
menggerakkan benda melalui matanya. Ia hanya memikirkannya dengan sangat maka
seperti ada tangan-tangan dari matanya yang akan membantunya mewujudkan
keinginannya.
Ia
memutuskan untuk memberitahu Miss Honey yang menganjurkannya untuk melatih
kekuatannya itu. Itulah saat pertama
Matilda akhirnya berkunjung ke rumah Miss Honey. Gubuk yang tidak pantas di
sebut rumah. Matilda tidak pernah membayangkan bahwa gurunya yang baik itu
tinggal di tempat seperti itu. Ternyata bibinya Miss Honey telah merebut harta
warisan dari kedua orangtuanya yang telah meninggal, dan ia tidak dapat
merebutnya kembali karena surat warisannya tidak pernah ditemukan. Bibi Miss
Honey yaitu Miss Truchbull. Matilda memutuskan untuk membantu Miss Honey
merebut warisannya kembali. Matilda akhirnya tinggal dengan Miss Honey karena
orangtuanya dan saudaranya pindah ke Spanyol. Orangtuanya pindah ke Spanyol
karena perkiraannya Miss Honey itu, ayah Matilda adalah pencuri mobil. Lalu
agar tidak ditangkap oleh polisi, ayah Matilda pindah ke Spanyol.
Dari segi IBD novel tersebut dapat
dilihat dari pesan moral yang terkandung di dalam cerita tersebut bahwa para
orang tua seharusnya sudah mengamati bakat anak sejak dini dan tidak seharusnya
orang tua mengurangi perhatian terhadap anak karena anak pada usia dini sangat
membutuhkan semangat dan perhatian dari orang tua agar anak dapat mengembangkan
bakatnya, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada seseorang seperti
kalimat dari teman Alan Turing yang berkata “kadang sesuatu yang tidak diduga datang
dari orang yang tidak terduga”. Dan bagi anak anak ataupun remaja nilai yang bisa diambil adalah walau pun kita berada dalam keadaan sulit atau tidak
menguntungkan kita harus tetap bersemangat dalam mengembangkan diri dan
belajar.
Dari segi kesenangan kita marasa terhibur dengan cerita dari novel ini dimana Matilda yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak enak tapi dapat membalas orang orang tersebut dengan seru tetapi tidak menyakiti orang lain. Dari segi keseimbangan wawasan
dari membaca novel tersebut kita bisa tahu bahwa masih ada juga orang tua yang
sebenarnya belum siap dalam mangasuh anak dan memberinya pendidikan yang benar.
No comments:
Post a Comment