Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. Pengertian lainnya adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu setiap tahunnya. Kegunaannya adalah memprediksi jumlah penduduk suatu wilayah di masa yang akan datang.
Pada
saat ini, pertumbuhan penduduk yang terjadi telah melampaui prediksi sesuai
dengan berita yang dikeluarkan KOMPAS.com pada tanggal 15 Juni 2013
yang memuat bahwa (Dalam
laporan bertajuk ”Prospek Populasi Dunia: Revisi 2012” yang dirilis di Markas
Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat (14/6), disebutkan, penduduk
dunia akan naik menjadi 8,1 miliar jiwa pada tahun 2025 dari jumlah 7,2 miliar
jiwa saat ni. Jumlah itu akan terus berkembang menjadi 9,6 miliar pada tahun
2050. Prediksi sebelumnya, penduduk dunia diperkirakan ”hanya” mencapai 9,3
miliar jiwa pada 2050.)
Pertumbuhan
penduduk paling tinggi akan terjadi di negara-negara berkembang, dan lebih dari
setengah penambahan jumlah penduduk dunia itu akan terjadi di Afrika. PBB
memperkirakan, pada awal abad depan, populasi penduduk bumi bisa mencapai 16,6
miliar jiwa. Pertumbuhan penduduk terbesar akan terjadi di negara-negara miskin.
Dan saat ini Benua Asia
mengalami pertumbuhan penduduk yang mengkhawatirkan, mengapa?
Pertambahan
penduduk ini sangat tidak sebanding dengan daya dukung alam. Maka dikuatirkan
kelak akan sangat tidak sebanding dengan produksi pangan. Maka kelaparan,
pengangguran, kemiskinan menjadi ancaman bagi semua negara, tak terkecuali
Indonesia.
Jumlah penduduk
yang tidak bisa dikendalikan akan berdampak besar di kemudian hari. Merujuk
pada teori Thomas Robert Malthus (1798) yang menyatakan bahwa peningkatan
produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk mengikuti deret
ukur, sehingga manusia pada masa depan mengalami ancaman kekurangan pangan.
Teori Malthus jelas menekankan tentang pentingnya keseimbangan pertambahan
jumlah penduduk dengan batas ambang lingkungan, agar tidak menjadi beban
lingkungan dan daya tampung lingkungan.
Penduduk dunia
telah mencapai 7 miliar pada 31 Oktober 2011. Dari 7 miliar itu, 4,1 miliar
berada di Benua Asia, dimana 1,3 miliar berada di China dan 241 juta di
Indonesia. Jumlah penduduk dunia diperkirakan bertambah 80 juta per tahun atau
kira-kira 225 ribu per hari. PBB memperkirakan jumlah penduduk dunia akan
mencapai 10,5 miliar pada tahun 2050 dan 14 miliar pada 2100.
Laju
pertumbuhan penduduk yang ekstrem seperti ini disebabkan karna beberapa faktor,
yaitu:
1. Kelahiran
kelahiran
bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat
kelahiran (anti natalitas) dan mendukung kelahiran (pro natalitas)
a. Kawin pada
usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu
b. Anak
dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
c. Anggapan
bahwa banyak anak banyak rejeki.
d. Anak menjadi
kebanggaan bagi orang tua.
e. Anggapan
bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak
laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.
Faktor-faktor
pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar,
Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain :
a. Adanya
program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak
b. Adanya
ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi
laki-laki minimal berusia 19 tahun.
c. Anggapan
anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
d. Adanya
pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan
hanya anak ke-2
e. Penundaan
kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
Untuk
menentukan jumlah kelahiran dalam satu wilayah digunakan angka kelahiran
(Fertilitas). Angka kelahiran yaitu angka yang menunjukkan rata-rata jumlah
bayi yang lahir setiap 1000 penduduk dalam waktu satu tahun.
Ada beberapa
cara untuk menghitung besarnya angka kelahiran yaitu :
a. Angka
kelahiran kasar (Crude Birth Rate)
Rumus yang
digunakan untuk menghitung yaitu :
Angka kelahiran
ini disebut kasar karena perhitungannya tidak memperhatikan jenis kelamin dan
umur penduduk, padahal yang dapat melahirkan hanya penduduk wanita.
Pada
pertengahan tahun 1999 Jakarta berpenduduk 10.000.000 jiwa. Dalam tahun
tersebut terdapat kelahiran 250.000 bayi.
Angka kelahiran
25 berarti tiap 1000 penduduk Jakarta setiap tahun terdapat kelahiran 25 bayi.
> Kurang
dari 20 digolongkan rendah
> Antara 20
– 30 digolongkan sedang
> Lebih dai
30 digolongkan tinggi
b. Angka
kelahiran menurut kelompok umur
Dengan rumus
tersebut kita dapat mengetahui kelompok umur mana yang paling banyak terjadi
kelahiran. Perlu diketahui bahwa usia 15 – 49 tahun adalah usia subur bagi
wanita. Pada usia itulah wanita mempunyai kemungkinan untuk dapat melahirkan
anak.
a. Kepercayaan
dan agama
faktor
kepercayaan mempengaruhi orang dalam penerimaan KB. Ada agama untuk kepercayaan
tertentu yang tidak membolehkan penganutnya mengikuti KB. Dengan sedikitnya
peserta KB berarti kelahiran lebih banyak dibanding bila peserta KB banyak.
b. Tingkat
Pendidikan
Semakin tinggi
orang sekolah berarti terjadi penundaan pernikahan yang berarti pula penundaan
kelahiran. Selain itu pendidikan mengakibatkan orang merencanakan jumlah anak
secara rasional.
c. Kondisi
Perekonomian
Penduduk yang
perekonomiannya baik tidak memikirkan perencaan jumlah anak karena merasa mampu
mencukupi kebutuhannya. Jika suatu Negara berlaku seperti itu maka penduduknya
menjadi banyak.
d. Kebijakan
Pemerintah
Kebijakan
pemerintah mempengaruhi apakah ada pembatasan kelahiran atau penambahan jumlah
kelahiran. Selain itu kondisi pemerintah yang tidak stabil. Misalnya kondisi
perang akan mengurangi angka kelahiran.
e. Adat
istiadat di Masyarakat
Kebiasaan dan
cara pandang masyarakat mempengaruhi jumlah penduduk, Misalnya nilai anak, ada
yang menginginkan anak sebanyak-banyaknya, ada yang menilai anak laki-laki
lebih tinggi dibanding perempuan atau sebaliknya, sehingga mengejar untuk
mendapatkan anak laki-laki atau sebaliknya.
f. Kematian dan
Kesehatan
Kematian dan
kesehatan berkaitan dengan jumlah kelahiran bayi. Kesehatan yang baik
memungkinkan bayi lebih banyak yang hidup dan kematian bayi yang rendah akan
menambah pula jumlah kelahiran.
g. Struktur
Penduduk
Penduduk yang
sebagian besar terdiri dari usia subur, jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan
yang mayoritas usia non-produktif (misalnya lebih banyak anak-anak dan
orang-orang tua usia).
2. Kematian
Kematian
bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka
kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran.
a. Angka
kematian kasar (Crude Death Rate = CDR)
Angka kematian
kasar yaitu angka yang menunjukkan jumlah kematian tiap 1000 penduduk tiap
tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertentu.
> Rendah,
jika angka kematian 9 – 13
> Sedang,
jika angka kematian 14 – 18
> Tinggi,
jika angka kematian lebih dari 18
b. Angka
kematian khusus menurut umur tertentu (Age Spesific Death Rate = ASDR)
Angka ini dapat
digunakan untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak
terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia tua atau usia lanjut angka in
tinggi, sedangkan pada kelompok muda jauh lebih rendah.
Angka kematian
bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap seribu yang lahir.
Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun.
Besarnya angka
kematian bayi dapat dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan
kesejahteraan penduduk. Pada umumnya bila masyarakat memiliki tingkat kesehatan
yang rendah maka tingkat kematian bayi tinggi. Selain perhitungan di atas
sering dihitung pula angka kematian ibu waktu melahirkan dan angka kematian
bayi baru lahir.
Untuk angka
kematian bayi ukurannya sebagai berikut :
> Rendah,
jika IMR antara 15-35
> Sedang,
jika IMR antara 36-75
> Tinggi,
jika IMR antara 76-125
Banyaknya
kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan
faktor penghambat kematian (anti mortalitas)
Faktor
pendukung kematian (pro mortalitas)
Faktor ini
mengakibatkan jumlah kematian semakin besar, yang termasuk faktor ini adalah :
a. Sarana
kesehatan yang kurang memadai
b. Rendahnya
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
c. Terjadinya
berbagai bencana alam
d. Terjadinya
peperangan
e. Terjadinya
kecelakaan lalu lintas dan industri
f. Tindakan
bunuh diri dan pembunuhan.
Faktor
penghambat kematian (anti mortalitas)
Faktor ini
dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah, yang termasuk faktor ini adalah :
a. Lingkungan
hidup sehat.
b. Fasilitas
kesehatan tersedia dengan lengkap.
c. Ajaran agama
melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
d. Tingkat
kesehatan masyarakat tinggi.
e. Semakin
tinggi tingkat pendidikan penduduk.
3. Migrasi
Perpindahan
(migrasi) atau mobilitas penduduk yang artinya proses gerak penduduk dari suatu
wilayah ke wilayah lain dalam jangka waktu tertentu.
a. Faktor
individu.
b. Faktor yang
terdapat di daerah asal.
c. Faktor yang
terdapat di daerah tujuan.
d. Rintangan
antara daerah asal dan daerah tujuan.
Daya tarik dan
daya dorong di daerah asal yang mempengaruhi perpindahan penduduk :
a. Kekuatan
Sentripental
adalah kekuatan
yang mengikat orang untuk tinggal di daerah asal, misalnya :
> Terikat
tanah warisan
> Menunggu
orang tua yang sudah lanjut
> Kegotong
royongan yang baik
> Daerah
asal merupakan tempat kelahiran nenek moyang mereka.
b. Kekuatan
Sentrifugal
adalah kekuatan
yang mendorong untuk meninggalkan daerah asal, misalnya:
a. Terbatasnya
pasaran kerja
b. Terbatasnya
fasilitas pendidikan
SUMBER:
- http://cahyopriastomo.blogspot.com/2014/05/laju-pertumbuhan-penduduk.html
- http://internasional.kompas.com/read/2013/06/15/10091516/Pertumbuhan.Penduduk.Dunia.Lampaui.Prediksi
- http://media.kompasiana.com/new-media/2012/06/07/ledakan-penduduk-yang-mengkhawatirkan-468967.html
- http://andrewaprianto.wordpress.com/2013/11/12/tugas-ii-penduduk-masyarakat-kebudayaan/
No comments:
Post a Comment